Ini sudah Juni, meski tak ada hujan yang tabah, "katamu.
Kupikir, Juni tak akan ada lagi hujan. Hanya panas dan terik yang menyengat.Namun nyatanya hujan datang lebih awal di bulan Juni. Turun dan berlari-larian.
Hujan di bulan Juni, kata Sapardi.
Adakah yang lebih tabah dari hujan bulan Juni milik Sapardi?
Dan katamu lagi, "tak ada hujan yang tabah."
Bagaimana dengan hujan di pelupuk mata yang juga deras di awal bulan Juni? Cukup tabahkah ia menurutmu? Kurasa jawaban yang akan terlontar dari mulutmu adalah tidak.
Adakah yang lebih tabah dari hujan bulan Juni milik Sapardi? Yang turun memendam segala kerinduan, mengalirkan segenap do'a, membumbungkan segala harap.
Tabahkah hujan di pelupuk mata? Yang mengalirkan mantra-mantra do'a atas rindu-rindu yang tak lagi terjamah. Egoiskah hujan di pelupuk mata yang mengharap waktu sekedar kecup? Hinakah jika ia mengemis sedikit perhatian yang tak lagi dirasa?
Tabahkah hujan di pelupuk mata? Yang mengalirkan mantra-mantra do'a atas rindu-rindu yang tak lagi terjamah. Egoiskah hujan di pelupuk mata yang mengharap waktu sekedar kecup? Hinakah jika ia mengemis sedikit perhatian yang tak lagi dirasa?
Meski ia memilih tabah untuk menyimpan rindu-rindu yang entah sampai kapan, menunggumu sebagai tempat berpulang. Berharap segala luka dan kecewa menguap dibawa serta.
Melalui hujan yang tak pernah bisa berucap.
Aku percaya, ada hujan yang lebih tabah dari hujan bulan Juni milik Sapardi.
With Love,
AN (040915)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar